Becak sebagai Icon Pariwisata di Jogjakarta

miniatur-becak-becaklogam

Becak, Pariwisata, dan Yogyakarta merupakan perpaduan yang membentuk suatu icon
destinasi pariwisata yang unik dan tidak dimiliki oleh destinasi di daerah lainnya dan
mempunyai nilai khusus daya tarik wisatawan. Fenomena keunikan becak sebagai alat
transportasi tradisional dapat dilihat dari keterkaitan hubungan yang secara konsisten
masih nampak eksistensinya di dalam menjalankan fungsinya sebagai alat transportasi
masyarakat, di tengah perkembangan peradaban masyarakat perkotaan Yogyakarta
menuju perkotaan metropolitan khususnya bagi kepariwisataan.

Pernah diragukan mampu bersaing dengan bus, taksi, atau angkutan kota lainnya, becak ternyata tetap bertahan di Kota Jogja. Daya lajunya yang lamban dengan kapasitas duduk dua penumpang, menciptakan romantisme tersendiri yang justru  digemari.
Jika Anda pernah hidup di Jogja, pastilah pernah menumpang becak, atau paling tidak, melihat wujudnya. Duduk berhimpitan berdua di atas jok becak yang melaju pelan di tengah lalu-lalang kendaraan, adalah pengalaman istimewa yang akan sulit terlupa. Kini, setelah puluhan tahun Anda meninggalkan Jogja, becak ternyata masih menjadi salah satu daya pikat wisata bagi para turis yang datang ke kota ini.
Mampu bertahan di tengah persaingan bisnis jasa transportasi modern, bagi becak adalah satu kenyataan yang menarik untuk dikaji. Apalagi ketika melihat fenomena, banyak  tukang becak di Jogja mampu hidup layak, berpenampilan necis dengan penghasilan memadai. Becak Jogja seperti tumbuh menjadi “spesies” tersendiri di antara becak-becak di kota lain yang sering diidentikkan sebagai simbol kemelaratan dan sumber kekacauan di jalan raya.
Memang tidak semua becak Jogja mampu mengangkat diri seperti itu. Tapi, cobalah lihat bagaimana H Abdul Khodir, tukang becak di Malioboro yang rajin menabung itu akhirnya mampu menunaikan ibadah haji. Gara-gara menjadi tukang becak pula, Jumadi yang biasa mangkal di Pasar Sriwedari itu pernah dua kali mendapat pekerjaan di Jerman dan sekali terbang sebagai turis ke Australia. Begitu pun dengan beberapa pengemudi becak “istimewa” lainnya, yang bisa menjadi contoh, betapa pekerjaan jika dilakukan dengan total akan mendatangkan berkah yang besar.
Sementara kehidupan tukang becak  “biasa” dan wong cilik di Jogja yang telanjur lekat dengan stereotip seperti  nrimo ing pandum, waton urip, alon-alon waton kelakon, musti mampu menerjemahkannya ke dalam makna-makna filosofi positif yang membangkitkan spirit hidup.

sumber : http://kabarejogja.com/kabar_detail.php?idUt=21

Sepeda Onta, Dulu Terbuang, Kini Disayang

sepeda-steyr

Sepeda Onthel atau terkadang disebut sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Dulu, biasa digunakan masyarakat perkotaan hingga tahun 1970-an.

Berbagai macam merek sepeda onthel beredar di pasar Indonesia. Pada segmen premium terdapat merek Gazelle (Belanda) dan Simplex (Belanda). Sedangkan segmen di bawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal seperti, Raleigh, Humber, Fongers, Batavus, Phillips, dan Foster.

Sepeda ini mempunyai klasifikasi gender yang tegas antara sepeda pria dan sepeda wanita. Kemudian memiliki 3 varian ukuran rangka standar yakni, 57, 61, dan 66 cm.

Pada tahun 1970-an, keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak, baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita.

Waktu itu, sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Sepeda jengki sendiri kemudian pada tahun 1980-an mulai digeser oleh sepeda federal atau MTB sampai sekarang.

Sepeda Ontel kemudian secara perlahan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan sampai sekarang. Akhirnya, sepeda onthel karena usianya, menjadi barang yang bersifat antik dan unik,

Dari situ, mulailah situasi berbalik, sepeda ontel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah “wolak-waliking jaman”.

Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming. Bisa jadi ketika BBM semakin mahal dan polusi udara semakin tidak terkendali, komunitas sepeda onthel akan menjadi salah satu garda terdepan untuk mensosialisasikan kembali pentingnya naik sepeda. Sepeda yang dulunya dianggap kuno dan udik, barangkali akan kembali menjadi alat transportasi utama di masa mendatang.

Hal ini terbukti dengan semakin maraknya Komunitas Sepeda Ontel yang ada. Ini terdapat di kota-kota besar, maupun derah. Sebut saja di kota Jakarta, Jogja dan kota-kota besar lainnya. Tepatnya di pinggiran kota Jakarta, ada sebuah Komunitas Sepeda Othel yang biasa mangkal di di depan Mal Matahari (Mal Daan Mogot Baru).

Komunitas ini biasanya akan terlihat setiap minggu di depan Mal Matahari (Mal Daan Mogot) mulai pukul 05.00 pagi. Seperti biasanya, selain bercengkrama, mereka pun bersenda gurau sambil bertukar informasi baik tentang sepeda onthel-nya masing-masing atau pembahasan lainnya.

Karena kesamaan minat dan hobi pada sesuatu yang unik seperti inilah, Agus, Agustino, Daud, Suardi, dan masih banyak lainnya, bisa berkumpul setiap minggu. Mereka semua adalah penggemar sepeda ontel di kawasan tersebut. Sebuah hobi yang bisa dikatakan sangat berbeda.

Para pengggemar sepeda ontel di Cengkareng ini awalnya setiap hari Minggu pagi biasa berkumpul dengan puluhan anggota KOBA yang lain di Bundaran HI. Karena merasa di seputaran wilayah mereka tinggal ternyata cukup banyak penggemarnya, maka kini dicoba untuk mulai membangun tempat nongkrong baru, di depan Mal Matahari, Daan Mogot Baru.

Untuk memenuhi hobinya, banyak para pencinta sepeda ontel juga mencari hingga ke pelosok di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan demi mendapatkan sepeda ontel yang dianggap sangat unik dan langka.

Selain Komunitas Sepeda Ontel di Cengkareng, kelompok yang mengatasnamakan Prima Ontel Club (POC) Bekasi adalah salah satu komunitas sepeda zaman kolonial yang tetap eksis. Komunitas sepeda ontel yang satu ini lahir pada bulan Juni 2006 lalu. Banyak komunitas sepeda ontel berkembang dan menjamur di seluruh pelosok kota dan daerah, bahkan tak tanggung-tanggung anggotanya pun datang dari kalangan atas.

Komunitas ini memiliki efek yang cukup besar bagi kondisi lingkungan udara di sejumlah kota. Bayangkan jika sebagian besar orang menggunakan sepeda dalam melakukan aktivitasnya. Secara otomatis, penggunaan kendaraan akan berkurang dan begitu juga dengan polusi udara. Sampai saat ini, anggotanya berkisar 150 orang, namun tidak menutup peluang akan muncul anggota-anggota baru.

Komunitas sepeda Ontel ini kerap nongkrong di komplek Perumahan Prima Harapan Regensi, Teluk Pucung, Bekasi Utara. Komunitas ini tidak hanya menjadi ajang pamer sepeda kuno, tapi juga sering menggelar semacam tur wisata keliling Kota Bekasi menyaksikan sejumlah bangunan kuno dengan mengendarai sepeda ontel.

Tujuannya, tidak lain supaya aktivitas bersepeda di Kota Bekasi bakal lebih semarak. Sehingga tidak akan aneh lagi kalau ada yang melihat sekumpulan komunitas sepeda kuno maupun sepeda ontel.

Selain digunakan oleh orang yang tergabung di Komunitas sepeda Ontel, sepeda ini pun masih banyak di gunakan, khususnya di daerah Jawa. Bukan hanya digunakan sebagai alat transportasi ke pasar saja, sepeda ontel pun masih digunakan untuk pergi kerja, ke kampus atau ke sekolah.

Sumber : http://www.infokomunitas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=757&Itemid=26

Cikar Sebagai Alat Transportasi Kuno

Cikar+Van+Madiun

Cikar merupakan alat transportasi pada jaman dahulu, jauh sebelum ditemukannya berbagai alat transportasi yang digerakan oleh mesin, dimana pada jamannya Cikar ini banyak dijumpai di daerah-daerah Indonesia, seperti Jawa lan Lombok.
Selain Cikar, kita mengenal juga alat transportasi sejenisnya seperti Delman, Sado, Dokar Dll yaitu gerobak yang ditarik oleh kuda, namun Cikar pada umumnya ditarik oleh Sapi dan dipergunakan untuk angkutan yang memuat barang atau orang.
Walau saat ini Cikar sulit untuk ditemui, namun beberapa segelintir orang, terutama di desa Cikar masih digunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil bumi, terutama didaerah-daerah yang sulit dilalui oleh kendaraan/ truk, karena kondisi alam yang terjal dan bebatuan. Walaupun demikian Cikar-cikar yang ada sudah tidak seperti cikar-cikar tempo dulu, terutama pada bagian roda. Tempo doeloe roda Cikar terbuat dari kayu Jati tua yang dilapisi oleh besi dengan diameter yang sangat besar untuk ukuran roda, yaitu 160 Cm, dan saat ini roda-roda tersebut digantikan oleh roda-roda yang terbuat dari ban mobil. Kerangka cikar yang ada sekarang juga terbuat dari berbagai macam kayu seperti kayu bengkirai atau kayu-kayu lain yang mempyai ketahanan dan keawetan sedangkan kerangka cikar-cikar tempo dulu terbuat dari kayu jati pilihan yang sangat kuat, terutama dari kayu jati jenis kembang dan doreng yang banyak dijumpai didaerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Biasanya cikar-cikar tersebut ditarik oleh dua ekor sapi gemuk, walaupun geraknya tidak selincah kuda dan cendrung sangat lambat, namun sapi-sapi ini mampu menarik beban yang sangat berat. Perlu diketahui bahwa sapi-sapi tersebut pada musim penghujan dimanfaatkan untuk menarik bajak di sawah, sedangkan pada musim kemarau disaat para petani tidak membajak sawah, maka sapi-sapi ini dimanfaatkan untuk menarik Cikar sebagai mata pencaharian sampingan para petani.
Cikar-Cikar kuno peninggalan budaya Indonesia tempo dulu sudah sangat sulit kita jumpai dan hanya bisa dijumpai pada kolektor-kolektor seni sebagai upaya pelestarian budaya asli Indonesia dengan jumlah yang sangat terbatas.
Untuk memiliki sebuah Cikar asli, para kolektor benda-benda seni tidak segan-segan mencari ke pelosok-pelosok daerah di Jawa dan Lombok, sebagai upaya melestarikan dan menjaga kepunahannya untuk ditempatkan pada gallery-gallery seni sebagai simbol/ artefak cita rasa bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian bercocok tanam.

Sumber : http://pesonaantik.blogspot.com/2008/06/cikar-sebagai-alat-transportasi-kuno.html

Andong, Transportasi Wisata di Yogyakarta yang Masih Tersisa

Pada mulanya sebagai alat transportasi para bangsawan di abad XIX hingga abad XX. Sedangkan rakyatnya saat itu menggunakan dokar atau gerobak sapi. Pada masa Sultan HB VIII andong mulai digunakan oleh masyarakat umum mulai dari pengusaha dan pedagang. Saat ini andong tidak hanya sebagai pengangkut barang dan penumpang umum dari dan kepasar tapi juga sebagai sarana wisata. Tidak ada tarif yang dipatok namun semua atas kesepakatan kusir dan pengguna.

andong

Untuk wisata keliling sekitar Malioboro dan Alun-alun sewanya berkisar 30ribu hingga 200ribu. Kesepakatan ini tergantung pada jarak atau berapa banyak tempat wisata yang akan dikunjungi. Namun ada juga jalur tetap dari Kota Gede ke pasar Beringharjo pp yang taripnya berkisar 3000 per orang atau kesepakatan bersama jika mengangkut banyak barang dagangan. Andong dapat mengangkut lebih dari 5 orang penumpang bahka jika ada yang mau duduk di ‘bagasi’ belakang bisa menampung 2 orang lagi.

andong 2

Pada umumnya andong ditarik seekor kuda namun ada juga yang ditarik dua ekor kuda. Andong adalah kereta kuda beroda empat sepasang didepan dan sepasang dibelakakang yang lebih besar lingkar rodanya. Di kota Jogja andong tersedia dari pagi hingga malam hari. Tempat mangkal andong tersebar dibeberapa titik, diantaranya disepanjang Malioboro – Ahmad Yani, pasar Beringharjo, pasar Ngasem, alun-alun utara, dalem Yudhaningratan dan Kota Gede. Sedangkan ‘garasi’ andong juga tersebar terutama di selatan kota Jogja, arah jalan Bantul, jalan Parangtritis, arah Piyungan.

Mereka adalah kusir andong yang turun-temurun yang bertempat tinggal sederhana dan juga ada yang berprofesi sebagai petani. Seperangkat kereta andong dengan kondisi bagus memiliki nilai diatas 15juta rupiah. Jatah makan kuda tiap harinya berkisar 20ribu per ekor untuk rumput dan dedak. Biaya itu tidak termasuk biaya kedokter dan obat-obatan atau jamu kuat jika kudanya sakit. Demikian juga untuk keretanya, pak kusir harus menyisihkan sedikit penghasilannya untuk biaya pemeliharaan dan perbaikan ke bengkel andong. Jika terlihat ada andong yang berwarna ‘pesan sponsor’ maka pak kusir akan mendapat biaya ‘sewa tempat’ sebesar 550-700ribu pertahun dan keretanya akan dicat baru.

andong 3

Di Jogja ada beberapa bengkel andong dan salah satunya adalah bengkel andong Lima Sekawan di dusun Jetis Pandean Patalan Jetis Bantul. Pemilik bengkel ini juga turun-temurun hingga generasi ke III. Tidak hanya ‘service center’ bagi kereta andong pada umumnya, bengkel ini juga langganan keraton Jogja dalam merawat kereta koleksinya. Juga bisa menerima pesanan kereta andong design khusus mewah seharga 80juta yang saat ini sedang mereka selesaikan pesanan dari pemda.

sumber : http://rinangpramito.blogdetik.com/andong/

Cidomo Kendaraan Khas Pulau Lombok

cidomo

Cidomo atau kepanjangan dari cikal dokar motor adalah kendaraan khas pulau lombok. Kendaraan ini terbuat dari kayu dan terdiri dari dua roda yang ditarik dengan menggunakan kuda.

Kendaraan yang mirip dengan Cidomo juga terdapat di Yogyakarta namun roda yang di pakai berbeda yaitu dengan menggunakan kayu dengan dilapisi karet.

Di yogyakarta dinamakan “Dokar”. Cidomo biasa digunakan untuk para wisatawan yang ingin berkeliling mengelilingi pantai di Pulau Lombok. Menikmati pantai dengan Cidomo terasa lebih indah dari pada menggunakan mobil, karena laju Cidomo yang tidak begitu cepat ataupun lambat. Dengan jendela yang terbuka membuat angin yang bertiup serasa lebih terasa. Ditemani oleh sopir atau sering disebut “kusir” anda bisa bertanya-tanya tentang Pulau Lombok. Mulai dari hotel penginapan, makanan khas Pulau Lombok, sampai objek wisata yang ada di Pulau Lombok. Jika anda berkunjung ke Pulau Lombok dan ingin menikmati suasana pantai, mungkin sebaiknya anda harus mencoba kendaraan khas Pulau Lombok ini.

 

Sumber : http://indonesiaculturalnews.blogspot.com/2009/04/cidomo-kendaraan-khas-pulau-lombok.html

 

“Jukung” Perahu Tradisional Banjar

perahu jukungKeadaan alam Kalimantan Selatan meliputi sungai, danau, rawa, dataran tinggi, dataran rendah, pegunungan, pantai laut, dan pulau-pulau kecil. Keadaan alam tersebut memberikan corak khusus pada kehidupan masyarakat dikawasan ini, baik itu kehidupan sosial, ekonomi maupun budayanya. Menarik bila kita mengkaji bagaimana kehidupan masyarakat Banjar yang tinggal dikawasan dimana sebagian besar wilayahnya terdiri atas sungai, danau, rawa, dan dataran rendah. Alam mempunyai peranan yang sangat besar dalam pembentukan jiwa dan budaya mereka. Unik dan khas, itulah kesan yang didapat ketika melihat budaya pada masyarakat Banjar.

Berbicara mengenai budaya, mengantarkan kita pada suatu hasil dari cipta, rasa, dan karsa manusia. Wujud dari kebudayaan itu sendiri dapat berupa gagasan atau ide, nilai, norma, kemudian suatu kompleks aktivitas dan juga benda-benda hasil karya manusia. Nah, karakteristik budaya masyarakat Banjar yang lebih dikenal dengan budaya sungai mempunyai aksen yang menarik, menilik dari benda-benda yang dihasilkan oleh masyarakat Banjar itu sendiri. Salah satu contohnya adalah perahu Banjar. Perahu ini merupakan warisan yang hendaknya dijaga keberadaanya, mengingat semakin gencarnya arus modernisasi yang sedikit demi sedikit mulai menggerus keberadan perahu-perahu Banjar. Tulisan ini mencoba menggali bagaimana keberadaan perahu Banjar, jenis-jenis perahu Banjar dan bagaimana pula perahu Banjar tersebut mampu bertahan ditengah arus modernisasi. Penting bagi kita untuk mencermati dan menganalisa sesuatu yang menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari kita agar bisa lebih peka terhadap budaya masyarakat yang unik dan khas seperti budaya sungai pada masyarakat Banjar.

Sejak dahulu sampai sekarang transportasi air atau hubungan melalui air, baik itu sungai, danau, rawa dan laut memegang peranan penting bagi masyarakat didaerah ini, terutama dari penduduk Banjar kuala, Banjar batang banyu serta suku Bakumpai yang hidup ditepi sungai. Dikawasan itulah berkembang perahu sungai yang merupakan alat angkutan vital. Walaupun peralatan perahu sungai itu sebagian besar sudah mengalami perubahan akibat dari perkmbangan teknologi sekarang,tapi masih ada perahu yang masih mempertahankan bentuk aslinya meskipun itu sangat terbatas.

Kalimantan Selatan, khususnya Banjarmasin mempunyai banyak sekali jenis-jenis perahu sesuai dengan funsi dan kegunaannya masing-masing. Tetapi hanya sedikit yang dap[at kita lihat dan saksikan sampai sekarang ini. Berdasarkan cara pembuatanya, perahu Banjar dibagi menjadi tiga kelompok besar yaitu: jukung sudur, jukung patai dan perahu batambit. Sedangkan jenis perahu yang berdasarkan fungsi dan kegunaanya diantaranya adalah perahu pambarasan, perahu panyudiran, perahu panyiapan, beca air, juklung getek, jukung rombong, parahu tambangan, perahu dagang dan masih banyak lagi jenis perahu yang lain. Perahu-perahu tersebut sebagian ada yang sudah menghuilang dalam peredaran, perannya digantikan oleh perahu motor atau pun kelotok. Hal itu wajar mengingat semakin berkembangnya tekhnologi yang pada akhirnya mengakibatkan terjadinya perubahan-perubahan budaya pada masyarakat.

Keberadaan perahu-perahu Banjar masih dapat kita jumpai dipasar terapung seperti jukung rombong, perahu dagang dan jukung penjual sayur. Sedangkan untuk beca air, jukung getek dan perahu panyudiran sudah tidak dapat ditemui lagi. Beca air yang fungsinya sebagai alat angkutan hanya mampu bertahan sampai akhir tahun 1970an, perannya diganti oleh perahu motor dan kelotok yang sekarang kondisinya pun kembang kempis akibat semakin majunya akses transportasi darat. Tak dapat dipungkiri bahwa perkembangan zaman yang semakin kompleks dan serba modern menimbulkan berbagai macam perubahan. Kalau zaman dulu transportasi di Banjarmasin bertumpu pada sungai, sekarang sudah lain lagi ceritanya. Jalan, jembatan penyeberangan sudah dibangun begitu pesatnya, sehingga masyarakat tentunya lebih memilih transportasi yang lebih cepat, efektif dan efisien dimana semua itu bisa didapatkan ditransportasi darat.

Tetapi ketika melihat dan merasakan bagaimana semrawutnya lalu lintas di kota banjarmasin, banyaknya kendaraan roda empat maupun roda dua yang semakin menambah sumpek jalanan muncul gagasan untuk kembali memanfaatkan sungai dan perahu sebagai alternatif lain sarana transportasi yang nyaman bagi masyarakat Banjar. Mungkin ini mustahil untuk diwujudkan, tapi setidaknya ini menjadi bahan pertimbangan yang layak untuk dikaji lebih lanjut. Mengingat banjarmasin adalah kota yang di aliri banyak sungai, dengan memulihkan lagi transportasi sungai dan kembali ke kearifan lokal akan menjadi daya tarik bagi wisatawan yang berkunjung ke Banjarmasin.

Banjarmasin dijuluki sebagai kota seribu sungai, sangat ironis bila kita melihat sungai-sungai yang ada belum dimanfaatkan secara optimal. Banyak hal yang bisa dilakukan untuk kota Banjarmasin yang menurut saya unik dan khas, misalnya mengembangkan pariwisata bernuansa sungai dengan cara kembali menghidupkan kembali peran perahu-perahu Banjar yang selama ini keberadaannya seperti hidup segan mati tak mau. Dan yang paling penting adalah menjaga eksistensi pasar terapung sebagai aset budaya masyarakat Banjar yang mempunyai nilai tinggi. Sebab kehadiran pasar terapung yang merupakan konsekwensi logis dari tumbuhnya pemukiman ditepi sungai adalah tempat berkumpulnya perahu-perahu Banjar yang membuatnya bisa bertahan ditengah arus modernisasi. Keberadaan pasar terapung selain menjadi tempat aktifitas jual beli dan wisata budaya seolah-olah telah menjadi benteng terakhir bagi perahu-perahu Banjar.

Sumber : http://adirizqoni.blogspot.com/2008/12/perahu-tradisional-banjar-di-tengah.html

  • RSS Mas nGanu

    • ayo ke Pameran !
      baru minggu lalu pameran perumahan, udah indocomtech aja sekarang… mau beli apa ya enaknya? list target sih ada external Harddisk 1 terra, LCD monitor, Notebook buat travelling, Lensa Wide…. banyak banget maunya manusia gw ini…hiks nampaknya harddisk adalah pilihan yang paling reasonable saat ini, ok lah berangkat oh iya, pameran mulai tgl 4 ini sampai […] […]
  • RSS mas Bibir

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS lindaaryanti

    • Rindu dan Bahagia itu
      Tadi malem kuliah ga bener banget, *emangnya tiap hari bener yach hihihihi :P, jadi ceritanya gini , nyampe kelas tuh langsung duduk diem, dengerin si bapak ngoceh, teori gitu dech, ga tau knp langsung ngetweet2 aneh soal rindu , hahaha ngegalau dikelas…. cekidot soal postingannya Kenangan adalah bagian dr apa yg kita lalui dan itu […]
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.