Tutut Kraca

tutut-kraca_01

Jenis siput sawah ini biasa disebut tutut oleh masyarakat di daerah Jawa atau Sunda, bentuknya tidak jauh beda dengan siput biasa, tapi tutut bentuknya lebih kecil dan hanya hidup dalam air sawah, jadi tidak hidup di dua alam sebagaimana halnya siput biasa.

Sebelum mulai di masak tutut direndam semalaman dalam air bersih, untuk menghilangkan lumpur yang menempel dalam tubuhnya, setelah itu bagian ujung tutup yang lancip di potong dengan menggunakan pisau. Siap deh, tutut dimasak dengan bumbu bawang merah, bawang putih, garam, cabe dan kunyit untuk menghilangkan bau amisnya.

Rasanya enak, bumbu kuahnya biasanya agak pedas dan spicy. Sangat tepat dimakan ssebagai makanan pembuka.

Source: http://www.doyanmakan.com

Tumpeng

Tumpeng adalah cara penyajian nasi beserta lauk-pauknya dalam bentuk kerucut; karena itu disebut pula ‘nasi tumpeng’. Olahan nasi yang dipakai umumnya berupa nasi kuning, meskipun kerap juga digunakan nasi putih biasa atau nasi uduk. Cara penyajian nasi ini khas Jawa atau masyarakat Betawi keturunan Jawa dan biasanya dibuat pada saat kenduri atau perayaan suatu kejadian penting. Meskipun demikian, masyarakat Indonesia mengenal kegiatan ini secara umum. Tumpeng biasa disajikan di atas tampah (wadah tradisional) dan dialasi daun pisang.

Tradisi
Acara yang melibatkan nasi tumpeng disebut secara awam sebagai ‘tumpengan’. Di Yogyakarta misalnya, berkembang tradisi ‘tumpengan’ pada malam sebelum tanggal 17 Agustus, Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, untuk mendoakan keselamatan negara. Ada tradisi tidak tertulis yang menganjurkan bahwa pucuk dari kerucut tumpeng dihidangkan bagi orang yang profesinya tertinggi dari orang-orang yang hadir. Ini dimaksudkan untuk menunjukkan rasa hormat kepada orang tersebut.

Lauk-pauk
Tidak ada lauk-pauk baku untuk menyertai nasi tumpeng. Namun demikian, beberapa lauk yang biasa menyertai adalah perkedel, abon, kedelai goreng, telur dadar/telur goreng, timun yang dipotong melintang, dan daun seledri.
Variasinya melibatkan tempe kering, serundeng, urap kacang panjang, ikan asin atau lele goreng, dan sebagainya. Dalam pengartian makna tradisional tumpeng, dianjurkan bahwa lauk-pauk yang digunakan terdiri dari hewan darat
(ayam atau sapi), hewan laut (ikan lele, ikan bandeng atau rempeyek teri) dan sayur-mayur (kangkung, bayam atau kacang panjang). Setiap lauk ini memiliki pengartian tradisional dalam budaya Jawa dan Bali. Lomba merias
tumpeng cukup sering dilakukan, khususnya di kota-kota di Jawa Tengah dan Yogyakarta, umtuk memeriahkan Hari Proklamasi Kemerdekaan.

Variasi

  • Tumpeng Robyong – Tumpeng ini biasa disajikan pada upacara siraman dalam pernikahan adat Jawa. Tumpeng ini diletakkan di dalam bakul dengan berbagai macam sayuran. Di bagian puncak tumpeng ini diletakkan telur ayam, terasi,
    bawang merah dan cabai.
  • Tumpeng Nujuh Bulan – Tumpeng ini digunakan pada syukuran kehamilan tujuh bulan. Tumpeng ini terbuat dari nasi putih. Selain satu kerucut besar di tengah, tumpeng ini dikelilingi enam buah tumpeng kecil lainnya. Biasa
    disajikan di atas tampah yang dialasi daun pisang.
  • Tumpeng Pungkur – digunakan pada saat kematian seorang wanita atau pria yang masih lajang. Dibuat dari nasi putih yang disajikan dengan lauk-pauk sayuran. Tumpeng ini kemudian dipotong vertikal dan diletakkan saling
    membelakangi.
  • Tumpeng Putih – warna putih pada nasi putih menggambarkan kesucian dalam adat Jawa. Digunakkan untuk acara sakral.
  • Tumpeng Nasi Kuning – warna kuning menggambarkan kekayaan dan moral yang luhur. Digunakan untuk syukuran acara-acara gembira, seperti kelahiran, pernikahan, tunangan, dan sebagainya.
  • Tumpeng Nasi Uduk – Disebut juga tumpeng tasyakuran. Digunakan untuk peringatan Maulud Nabi.
  • Tumpeng Seremonial/Modifikasi

nasi-tumpengSource: http://id.wikipedia.org/wiki/Tumpeng

Rujak Kuah Pindang

rujak

Bagi anda yang suka rujak, jangan lewatkan rujak khas Bali! namanya Rujak Kuah Pindang. Bumbunya seperti rujak biasa, hanya saja ditambahan kuah ikan pindang atau kaldu ikan.

Rujak Kuah Pindang adalah kombinasi dari beberapa buah-buahan segar yang hampir mirip dengan rujak manis atau rujak gula. Contoh buah yang digunakan mirip dengan rujak gula seperti bengkuang, pepaya, kedondong, mentimun, belimbing, dan lain-lain. Buah-buahan ini dikupas kemudian dipotong kecil-kecil. Yang membedakannya dengan rujak biasa adalah pelengkapnya, yakni kaldu yang terbuat dari ikan, garam, terasi, dan cabai. Semua bahan pelengkap itu digiling sampai lembut, tapi tidak diberikan air lagi karena dicampur kuah pindang (kaldu ikan) sudah encer.


sumber : http://www.doyanmakan.com/makanankhas/newsdetail.php?id=Vm10a05GVXhTbk5SYkVwUlZrUkJPUT09

Pecel, Makanan Khas Madiun

pecel-01Pecel adalah makanan khas Kota Madiun Jawa Timur Indonesia yang terbuat dari rebusan sayuran berupa bayam, tauge, kacang panjang, kemangi, daun turi, krai (sejenis mentimun) atau sayuran lainnya yang dihidangkan dengan disiram sambal pecel. Konsep hidangan pecel ada kemiripan dengan salad bagi orang Eropa, yakni sayuran segar yang disiram topping mayonaise. Cuma untuk pecel toppingnya sambal pecel. Bahan utama dari sambal pecel adalah kacang tanah dan cabe rawit yang dicampur dengan bahan lainnya seperti daun jeruk purut, bawang, asam jawa, merica dan garam. Pecel sering juga dihidangkan dengan rempeyek kacang, rempeyek udang atau lempeng beras. Selain itu pecel juga biasanya disajikan dengan nasi putih yang hangat ditambah daging ayam atau jerohan. Cara penyajian bisa dalam piring atau dalam daun yang dilipat yang disebut pincuk. Masakan ini mirip dengan gado-gado, walau ada perbedaan dalam bahan-bahan yang digunakan. Rasa pecel yang pedas menyengat menjadi ciri khas dari masakan ini.

Di wilayah Banyumas, pecel sering pula dibubuhi dengan bahan-bahan (sayuran) yang berbau merangsang. Di antaranya, ditaburi dengan biji-biji lamtoro atau irisan bunga kecombrang (Nicolaia spp.) yang telah dikukus.

Nama pecel punya arti berbeda di daerah Slawi, Tegal, Jawa Tengah. Pecel tidak disajikan dalam bentuk sayur-sayuran, melainkan berbentuk rujak. Pecel versi daerah Slawi terdiri dari buah-buahan segar seperti jambu, nanas, pepaya, dan mangga serta disirami dengan saus gula merah kental.

sumber : http://www.doyanmakan.com/makanankhas/newsdetail.php?id=Vm10a05GVXhSbk5SYkVwUlZrUkJPUT09

Becak sebagai Icon Pariwisata di Jogjakarta

miniatur-becak-becaklogam

Becak, Pariwisata, dan Yogyakarta merupakan perpaduan yang membentuk suatu icon
destinasi pariwisata yang unik dan tidak dimiliki oleh destinasi di daerah lainnya dan
mempunyai nilai khusus daya tarik wisatawan. Fenomena keunikan becak sebagai alat
transportasi tradisional dapat dilihat dari keterkaitan hubungan yang secara konsisten
masih nampak eksistensinya di dalam menjalankan fungsinya sebagai alat transportasi
masyarakat, di tengah perkembangan peradaban masyarakat perkotaan Yogyakarta
menuju perkotaan metropolitan khususnya bagi kepariwisataan.

Pernah diragukan mampu bersaing dengan bus, taksi, atau angkutan kota lainnya, becak ternyata tetap bertahan di Kota Jogja. Daya lajunya yang lamban dengan kapasitas duduk dua penumpang, menciptakan romantisme tersendiri yang justru  digemari.
Jika Anda pernah hidup di Jogja, pastilah pernah menumpang becak, atau paling tidak, melihat wujudnya. Duduk berhimpitan berdua di atas jok becak yang melaju pelan di tengah lalu-lalang kendaraan, adalah pengalaman istimewa yang akan sulit terlupa. Kini, setelah puluhan tahun Anda meninggalkan Jogja, becak ternyata masih menjadi salah satu daya pikat wisata bagi para turis yang datang ke kota ini.
Mampu bertahan di tengah persaingan bisnis jasa transportasi modern, bagi becak adalah satu kenyataan yang menarik untuk dikaji. Apalagi ketika melihat fenomena, banyak  tukang becak di Jogja mampu hidup layak, berpenampilan necis dengan penghasilan memadai. Becak Jogja seperti tumbuh menjadi “spesies” tersendiri di antara becak-becak di kota lain yang sering diidentikkan sebagai simbol kemelaratan dan sumber kekacauan di jalan raya.
Memang tidak semua becak Jogja mampu mengangkat diri seperti itu. Tapi, cobalah lihat bagaimana H Abdul Khodir, tukang becak di Malioboro yang rajin menabung itu akhirnya mampu menunaikan ibadah haji. Gara-gara menjadi tukang becak pula, Jumadi yang biasa mangkal di Pasar Sriwedari itu pernah dua kali mendapat pekerjaan di Jerman dan sekali terbang sebagai turis ke Australia. Begitu pun dengan beberapa pengemudi becak “istimewa” lainnya, yang bisa menjadi contoh, betapa pekerjaan jika dilakukan dengan total akan mendatangkan berkah yang besar.
Sementara kehidupan tukang becak  “biasa” dan wong cilik di Jogja yang telanjur lekat dengan stereotip seperti  nrimo ing pandum, waton urip, alon-alon waton kelakon, musti mampu menerjemahkannya ke dalam makna-makna filosofi positif yang membangkitkan spirit hidup.

sumber : http://kabarejogja.com/kabar_detail.php?idUt=21

Sepeda Onta, Dulu Terbuang, Kini Disayang

sepeda-steyr

Sepeda Onthel atau terkadang disebut sepeda unta, sepeda kebo, atau pit pancal adalah sepeda standar dengan ban ukuran 28 inchi. Dulu, biasa digunakan masyarakat perkotaan hingga tahun 1970-an.

Berbagai macam merek sepeda onthel beredar di pasar Indonesia. Pada segmen premium terdapat merek Gazelle (Belanda) dan Simplex (Belanda). Sedangkan segmen di bawahnya diisi oleh beberapa merek terkenal seperti, Raleigh, Humber, Fongers, Batavus, Phillips, dan Foster.

Sepeda ini mempunyai klasifikasi gender yang tegas antara sepeda pria dan sepeda wanita. Kemudian memiliki 3 varian ukuran rangka standar yakni, 57, 61, dan 66 cm.

Pada tahun 1970-an, keberadaan sepeda onthel mulai digeser oleh sepeda jengki yang berukuran lebih kompak, baik dari ukuran tinggi maupun panjangnya dan tidak dibedakan desainnya untuk pengendara pria atau wanita.

Waktu itu, sepeda jengki yang cukup populer adalah merek Phoenix dari China. Sepeda jengki sendiri kemudian pada tahun 1980-an mulai digeser oleh sepeda federal atau MTB sampai sekarang.

Sepeda Ontel kemudian secara perlahan lebih banyak digunakan oleh masyarakat pedesaan sampai sekarang. Akhirnya, sepeda onthel karena usianya, menjadi barang yang bersifat antik dan unik,

Dari situ, mulailah situasi berbalik, sepeda ontel yang dulunya terbuang, sekarang pada tahun 2000-an justru diburu kembali oleh semua kalangan mulai dari pelajar, mahasiswa, sampai pejabat. Orang Jawa mengatakan inilah “wolak-waliking jaman”.

Keranjingan masyarakat terhadap sepeda onthel adalah tepat bersamaan dengan berkembangnya ancaman global warming. Bisa jadi ketika BBM semakin mahal dan polusi udara semakin tidak terkendali, komunitas sepeda onthel akan menjadi salah satu garda terdepan untuk mensosialisasikan kembali pentingnya naik sepeda. Sepeda yang dulunya dianggap kuno dan udik, barangkali akan kembali menjadi alat transportasi utama di masa mendatang.

Hal ini terbukti dengan semakin maraknya Komunitas Sepeda Ontel yang ada. Ini terdapat di kota-kota besar, maupun derah. Sebut saja di kota Jakarta, Jogja dan kota-kota besar lainnya. Tepatnya di pinggiran kota Jakarta, ada sebuah Komunitas Sepeda Othel yang biasa mangkal di di depan Mal Matahari (Mal Daan Mogot Baru).

Komunitas ini biasanya akan terlihat setiap minggu di depan Mal Matahari (Mal Daan Mogot) mulai pukul 05.00 pagi. Seperti biasanya, selain bercengkrama, mereka pun bersenda gurau sambil bertukar informasi baik tentang sepeda onthel-nya masing-masing atau pembahasan lainnya.

Karena kesamaan minat dan hobi pada sesuatu yang unik seperti inilah, Agus, Agustino, Daud, Suardi, dan masih banyak lainnya, bisa berkumpul setiap minggu. Mereka semua adalah penggemar sepeda ontel di kawasan tersebut. Sebuah hobi yang bisa dikatakan sangat berbeda.

Para pengggemar sepeda ontel di Cengkareng ini awalnya setiap hari Minggu pagi biasa berkumpul dengan puluhan anggota KOBA yang lain di Bundaran HI. Karena merasa di seputaran wilayah mereka tinggal ternyata cukup banyak penggemarnya, maka kini dicoba untuk mulai membangun tempat nongkrong baru, di depan Mal Matahari, Daan Mogot Baru.

Untuk memenuhi hobinya, banyak para pencinta sepeda ontel juga mencari hingga ke pelosok di Pulau Jawa. Hal ini dilakukan demi mendapatkan sepeda ontel yang dianggap sangat unik dan langka.

Selain Komunitas Sepeda Ontel di Cengkareng, kelompok yang mengatasnamakan Prima Ontel Club (POC) Bekasi adalah salah satu komunitas sepeda zaman kolonial yang tetap eksis. Komunitas sepeda ontel yang satu ini lahir pada bulan Juni 2006 lalu. Banyak komunitas sepeda ontel berkembang dan menjamur di seluruh pelosok kota dan daerah, bahkan tak tanggung-tanggung anggotanya pun datang dari kalangan atas.

Komunitas ini memiliki efek yang cukup besar bagi kondisi lingkungan udara di sejumlah kota. Bayangkan jika sebagian besar orang menggunakan sepeda dalam melakukan aktivitasnya. Secara otomatis, penggunaan kendaraan akan berkurang dan begitu juga dengan polusi udara. Sampai saat ini, anggotanya berkisar 150 orang, namun tidak menutup peluang akan muncul anggota-anggota baru.

Komunitas sepeda Ontel ini kerap nongkrong di komplek Perumahan Prima Harapan Regensi, Teluk Pucung, Bekasi Utara. Komunitas ini tidak hanya menjadi ajang pamer sepeda kuno, tapi juga sering menggelar semacam tur wisata keliling Kota Bekasi menyaksikan sejumlah bangunan kuno dengan mengendarai sepeda ontel.

Tujuannya, tidak lain supaya aktivitas bersepeda di Kota Bekasi bakal lebih semarak. Sehingga tidak akan aneh lagi kalau ada yang melihat sekumpulan komunitas sepeda kuno maupun sepeda ontel.

Selain digunakan oleh orang yang tergabung di Komunitas sepeda Ontel, sepeda ini pun masih banyak di gunakan, khususnya di daerah Jawa. Bukan hanya digunakan sebagai alat transportasi ke pasar saja, sepeda ontel pun masih digunakan untuk pergi kerja, ke kampus atau ke sekolah.

Sumber : http://www.infokomunitas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=757&Itemid=26

Cikar Sebagai Alat Transportasi Kuno

Cikar+Van+Madiun

Cikar merupakan alat transportasi pada jaman dahulu, jauh sebelum ditemukannya berbagai alat transportasi yang digerakan oleh mesin, dimana pada jamannya Cikar ini banyak dijumpai di daerah-daerah Indonesia, seperti Jawa lan Lombok.
Selain Cikar, kita mengenal juga alat transportasi sejenisnya seperti Delman, Sado, Dokar Dll yaitu gerobak yang ditarik oleh kuda, namun Cikar pada umumnya ditarik oleh Sapi dan dipergunakan untuk angkutan yang memuat barang atau orang.
Walau saat ini Cikar sulit untuk ditemui, namun beberapa segelintir orang, terutama di desa Cikar masih digunakan sebagai alat transportasi untuk mengangkut hasil bumi, terutama didaerah-daerah yang sulit dilalui oleh kendaraan/ truk, karena kondisi alam yang terjal dan bebatuan. Walaupun demikian Cikar-cikar yang ada sudah tidak seperti cikar-cikar tempo dulu, terutama pada bagian roda. Tempo doeloe roda Cikar terbuat dari kayu Jati tua yang dilapisi oleh besi dengan diameter yang sangat besar untuk ukuran roda, yaitu 160 Cm, dan saat ini roda-roda tersebut digantikan oleh roda-roda yang terbuat dari ban mobil. Kerangka cikar yang ada sekarang juga terbuat dari berbagai macam kayu seperti kayu bengkirai atau kayu-kayu lain yang mempyai ketahanan dan keawetan sedangkan kerangka cikar-cikar tempo dulu terbuat dari kayu jati pilihan yang sangat kuat, terutama dari kayu jati jenis kembang dan doreng yang banyak dijumpai didaerah Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Biasanya cikar-cikar tersebut ditarik oleh dua ekor sapi gemuk, walaupun geraknya tidak selincah kuda dan cendrung sangat lambat, namun sapi-sapi ini mampu menarik beban yang sangat berat. Perlu diketahui bahwa sapi-sapi tersebut pada musim penghujan dimanfaatkan untuk menarik bajak di sawah, sedangkan pada musim kemarau disaat para petani tidak membajak sawah, maka sapi-sapi ini dimanfaatkan untuk menarik Cikar sebagai mata pencaharian sampingan para petani.
Cikar-Cikar kuno peninggalan budaya Indonesia tempo dulu sudah sangat sulit kita jumpai dan hanya bisa dijumpai pada kolektor-kolektor seni sebagai upaya pelestarian budaya asli Indonesia dengan jumlah yang sangat terbatas.
Untuk memiliki sebuah Cikar asli, para kolektor benda-benda seni tidak segan-segan mencari ke pelosok-pelosok daerah di Jawa dan Lombok, sebagai upaya melestarikan dan menjaga kepunahannya untuk ditempatkan pada gallery-gallery seni sebagai simbol/ artefak cita rasa bangsa Indonesia yang sebagian besar penduduknya bermata pencaharian bercocok tanam.

Sumber : http://pesonaantik.blogspot.com/2008/06/cikar-sebagai-alat-transportasi-kuno.html

  • RSS Mas nGanu

    • ayo ke Pameran !
      baru minggu lalu pameran perumahan, udah indocomtech aja sekarang… mau beli apa ya enaknya? list target sih ada external Harddisk 1 terra, LCD monitor, Notebook buat travelling, Lensa Wide…. banyak banget maunya manusia gw ini…hiks nampaknya harddisk adalah pilihan yang paling reasonable saat ini, ok lah berangkat oh iya, pameran mulai tgl 4 ini sampai […] […]
  • RSS mas Bibir

    • An error has occurred; the feed is probably down. Try again later.
  • RSS lindaaryanti

    • Rindu dan Bahagia itu
      Tadi malem kuliah ga bener banget, *emangnya tiap hari bener yach hihihihi , jadi ceritanya gini , nyampe kelas tuh langsung duduk diem, dengerin si bapak ngoceh, teori gitu dech, ga tau knp langsung ngetweet2 aneh soal rindu , hahaha ngegalau dikelas…. cekidot soal postingannya Kenangan adalah bagian dr apa yg kita lalui dan itu […]
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.